luv

March 30, 2009

aq aq kembali terbentur di satu titik

titik yang coba beri ku cahaya

walau perlu waktu

aq coba untuk meyakinkan hati

ini bukan lagi jalan yang berliku, pintaku

dan dia pun hadir untukku

……{luv_ly}…………

sebuah catatan senja cerpen_Q

February 19, 2009

Kuasa

“Aku masih ingat sekali, seminggu sebelumnya aku telah menerima surat panggilan dari Bank BCA. Aku diterima bekerja di sana,” lambat suara Amenk menyeruak di telingaku. Aku menjadi teman ceritanya semenjak 5 bulan dia berada di jeruji besi itu. Namun menurutnya berada di LP bukanlah sesuatu yang menakutkan. Dia seolah-olah berada di rumah kos-kosan pelajar atau mahasiswa. Punya kasur sendiri, lemari tempat menyimpan baju, ada televisi, tape, dispenser, bahkan magic come. Hanya saja bedanya, 1 ruangan itu terdiri dari 8-9 orang bahkan lebih. Tapi aku tau sekali kalau ceritanya itu hanya untuk menenangkan ku di sini. Entahlah.

Aku terenyuh. Betapapun tegarnya dia, aku tau sekali kalau saat ini dan semenjak putusan sidang itu, hatinya dipenuhi pecahan beling. Kalau aku di posisinya, aku sudah kalut dan mencari jalan pintas mungkin. Tapi dia tidak memperlihatkannya. Dia lebih membelenggu air matanya agar tak memancing air mata orang-orang di sekelilingnya.

***

Kaki ku bergetar. Tak ku sangka aku akan sampai ke tempat yang selama ini hanya ku saksikan di televisi. Pikirku, di dalamnya kejam. Semua seperti macan dan berlaku pula seperti macan. Orang yang berani dialah yang menjadi raja. Tapi beda, ternyata penuh ketenangan juga rupanya. Sekelebat ku melihat orang yang awalnya akan ku temui. Walaupun sebenarnya bertentangan dengan hati kecilku, tapi sebagai seorang kemenakan aku harus menemuinya. Dan terpenting memberi dukungan padanya.

”Amoy.” sambut orang itu. Aku mengenalnya. Sangat. Tapi dia tampil beda. Tak lagi ada rambut rapi yang dipoles minyak berbau wangi. Rambutnya telah habis, kulit kepalanya tampak jelas. Ada sedikit memar di atas alis dan di pipinya. Pakaiannya pun seperti pakaian yang kulihat selama ini di sinetron itu. Bermerek tahanan.

”Makciak sehat?” lirihku tergagap. Dan setelah itu suara ku digantikan dengan titik-titik lain.

Dia hanya tersenyum. Mencoba membuktikan kalau dia tidak apa-apa.

“Inilah yang namanya hidup.”

“Kita harus berani mencoba, dan ketika kita telah terjebak di dalamnya, jangan pernah mencoba lari dari resikonya.” Makciak dengan santainya memberi petuah padaku. Mungkin juga. Ini bukanlah sesuatu yang disesali.

“Ini hanya sebuah permainan, Moy,” tukasnya lagi.

”Sedikit saja, kita bisa tenang dan terlupa akan masalah. Dan kemudian hasil penjualannya jauh lebih menjanjikan dibandingkan menjual mobil yang saban hari tidak ada pembelinya.”

Aku tak berkutik. Hati ku sangat menentang apa yang diucapkan mamak ku itu. Aku rasa ia memang menikmatinya. Namun tiba-tiba aku melihat wajah yang begitu ku kenal.

Aku yakin mengenalnya. Berjalan melangkah menyusuri gerbang demi gerbang yang terkunci rapat dengan gembok yang kira-kira beratnya 1 kilo. Terlihat gontai. Namun dia berubah. Wajahnya jauh lebih bercahaya. Badannya sedikit lebih tinggi. Rambutnya pendek, rapi. Orang-orang pasti tau kalau usianya membuat dia tidak pantas berada di sana.

”Aku mengenalinya,” batinku.

Tanpa segan aku menyapanya untuk memastikan firasatku. Dan ternyata benar. Dia mengenaliku. Mengenali berbagai perubahan pada diriku. Tak kecil seperti waktu sekolah dulu. Jauh lebih dewasa katanya. Namun aku tak berani menanyakan perihal dirinya.

Dia membaca pikiranku.

”Aku terjebak. Hal yang mungkin sangat kamu takutkan dalam dunia anak muda. Tapi dia menyenangkan. Dia menghabiskan uangku sekaligus memberikan ketenangan kepadaku,” jelas Amenk tanpa basa basi.

***

”Amenk, kau bisa ke rumah sebentar? Zahra dari tadi merengek. Dia ingin pergi jalan-jalan denganmu.” pinta kakak saat itu meneleponku.

”Akan aku usahakan setelah pulang kerja nanti kak.”

Hatiku ini berdegup kencang. Ingin sekali rasanya segera bertemu dengan kemenakan kesayanganku itu. Mungkin kontak batinku terlalu erat dengannya. Tapi tak pernah aku merasakan yang seperti ini. Batinku pula.

Tapi sepulang aku bekerja aku tidak dapat memenuhi permintaan kemenakan ku itu. Aku pulang terlalu larut malam. Besoknya, sengaja aku tak masuk kerja untuk kemenekan semata wayang ku itu. Dia amat manis. Manis juga untuk menghilangkan rasa kesalku atau kadang rasa depresi ku saat banyak masalah di tempat bekerja atau menyangkut hubunganku dengan seorang wanita teman dekatku.

Puas seharian aku bermain dengannya. Mulai dari memandikannya, menyuapinya, kemudian membawanya jalan-jalan. Namun terkadang aku merasakan keanehan. Kenapa kemenakan ku ini tak seperti biasanya. Seolah-olah dia tidak mau melepasku dan ingin bersama ku saja untuk hari ini. Hingga pukul 12.00 Wib, telepon genggam ku berbunyi.

”Amenk, kau bisa membantuku?” pinta orang di seberang sana yang tak lain adalah teman ku atau lebih pantas ku sebut sahabat. Dia begitu baik. Tak pernah ada pertengkaran di antara kami. Kami bersahabat sudah lama. Ini lantaran dia juga merupakan tetanggaku. Aku mengenalnya semenjak berusia 16 tahun, ketika aku pindah sekolah dari Medan ke kota Bukittinggi hingga sekarang aku berusia 21 tahun. Dari dia jugalah aku kembali mengenal barang ajaib yang sempat ku tinggalkan itu. Dan dari dialah aku belajar banyak soal persahabatan. Dia tidak pernah memeperhitungkan apapun kepadaku. Sama ada, dan sama tidak ada pula.

”Tolong kau carikan aku. Aku butuh sekali. Untuk teman ku yang saat ini sedang membutuhkannya. Sedangkan aku, aku tidak bisa membantunya.”

Tanpa pikir panjang aku mencarikan barang yang dimintanya. Namun, stok di semua tempat yang aku tau, telah habis. Aku merasakan sekali apa yang dirasakan teman sahabatku itu.

Rasa itu sekarang diingatkan kembali oleh sahabatku itu. Nafasku sesak, kepala ku sakit. Aku lebih memilih mengurung diri di kamar. Menghabiskan sisa-sisa yang masih menempel di plastik-plastik bekas atau suntikan-suntikan bekas yang masih ada di kamar ku. Aku seperti kehilangan organ di tubuhku. Semua persendianku terasa tak berfungsi. Namun itu akan hilang ketika sedikit saja obat penjinaknya datang. Dan alang kepalang tidak datang, aku lebih memilih mengoyak-ngoyak tanganku untuk menahan tarikan dari dalam tubuh ku. Tapi itu tak cukup. Bahkan rasa ingin mendapatkannya jauh lebih besar. Dan sulit untuk keluar dari itu.

Tancap gas. Aku langsung menuju daerah kecil di Payakumbuh. Aku ingin menolong teman sahabat ku itu. Aku tidak ingin dia merasakan perih itu. Akhirnya ku dapatkn. Lumayan berat, sesuai dengan pesanan dan sedikit ku lebihkan untukku.

Dalam perjalanan pulang. Seperti biasa, aku seperti orang tak berdosa melintasi jalan raya yang masih disibukkan oleh kendaraan yang lalu-lalang menuju tempat peristirahatan mereka setelah lelah bekerja. Tiba-tiba, ada kerumunan. Ternyata ada kecelakaan.

Tak beberapa meter dari tempat kecelakaan itu, aku merasa ada yang mengikuti ku. Beberapa petugas kepolisian ada di belakang. Tak lama, mencoba mendahuluiku dan memintaku berhenti. Kemudian petugas itu menyergap ku. Aku terpaksa berhenti. Keringat dingin mengucur di punggungku. Kamudian aku berada di ruangan dingin. Tak berpintu, hanya ditutupi susunan besi rapat dan kuat.

Rasa perih begitu kental ku rasakan. Batang hidungku terasa patah. Tanganku memar-memar. Dan punggungku sakit sekali. Hantaman demi hantaman tumit sepatu petugas itu melayang tanpa belas kasihan terhadapku. Dan di seberang aku melihat sahabatku.

”Terima kasih atas kerja samanya,” ucap seorang perugas kepolisian sembari menyodorkan setumpuk uang kepada sahabat ku itu.

Dia pun tersenyum dan membalas dengan jabatan tangan. Dan petugas kepolisian itu bergegas mengemasi telepon genggam ku yang ku beli dengan gaji dua bulan ku bekerja. Setara gaji pegawai negeri golongan C.

***

Desahan nafasnya membuatku bungkam. Tak ada yang mampu ku ucapkan. Terpaan hidup mengajarkan banyak hal. Kemudian aku mendatangi Amenk sekali sebulan. Memberikan semacam dukungan. Dia akan menjalani hidup di kosan gratis itu untuk masa 3 tahun. Berbeda dengan Makciak yang cuma dibebani 8 bulan. Itu pun dipotong masa tahanan 4 bulan.

”Semuanya sudah diatur,” bisik Mak Munah. Dia istri Mamak ku itu.

SeluetChiMoet_2009

dogi_q sayang

February 19, 2009

dogi_q sayang dogi_q malang

hua…..

persetan lagi dengan cinta

malang nian

semua janji yang teretas

musnah sudah

uang pun lenyap tak berkesan…..

andai q tau

takkan ku buang waktu

takkan kubiarkan cinta ini menggali dalam hati q

sekarang ia pongah

berada di pelukan target baru

huaaaaaaaaaaaa

persetan dengan cinta

ku ingin Tuhan memberi balas padamu

wahai dogi QQQQQQQQQQQQQQQQ

tapi………

I STILL LOPH Unanda

ciNta???

February 19, 2009

mungkin cuma pelarian……..

aq tak tau apa yang ada

dan entah apa pula yang terjadi

dia terlepas dari satu tangan

berhambur ke tanganku

sosok unik

tapi menyenangkan……….

Tuhan

cinta itu maha dahsyatnya….

kau kaku dan beku

tapi ku suka

kekanak-kanakkan mu

manja mu

membuat q nyaman untuk sementara….

ha

persetan dengan cinta

katamu tak perlu ragu

tapi keraguan itu membelenggu Q

<guLLit>1_253236533m

alam q memesona

January 21, 2009

Menikmati Eksotiknya Puncak Singgalang

Merayakan awal tahun dengan kembang api atau di puncak gunung Merapi mungkin sudah menjadi hal yang lumrah. Biasanya para Pecinta Alam cenderung menuju puncak gunung Merapi di tahun baru, 17 Agustus, dan hari-hari mendaki lainnya. Namun, tak banyak yang mau menuju gunung satu ini, yaitu Singgalang. Kalaupun ada, itu pun tak seantusias peminat Gunung Merapi. Hal ini lantaran gunung Singgalang tidak setinggi gunung Merapi.
Jika dapat mencapai puncak gunung Singgalang akan menjadi kemenangan tersendiri bagi para Pecinta Alam. Kenapa tidak, hamparan Telaga Dewi nan memesona akan menyambut dan menemani selama pendaki berada di puncak terindah ini.
Untuk mencapai puncak nan eksotik ini, perjalanan akan diawali dengan mengambil jalan dari daerah Koto Baru Padang Singkek. Pecinta Alam bisa menuju daerah ini dengan menggunakan kendaraan sampai ke pemancar stasiun TV RCTI. Setelah itu menempuh perjalanan ± 1 jam, lepas perjalanan ini Pecinta Alam akan langsung dihadang oleh hutan pimping-tumbuhan yang tinggi dan saling menyilang. Tak hayal, untuk menembusnya, Pecinta Alam harus melewatinya dengan cara menunduk sampai ke sebuah mata air yang sangat jernih. Di sinilah Pecinta Alam dapat sejenak melepas lelah dan penat dengan menyegarkan diri menggunakan mata air yang begitu sejuk.
Ketika perjalanan dilanjutkan, kita tak perlu susah-susah menggunakan kompas atau guide karena kabel toer dari puncak Singgalang akan senantiasa mengulurkan tangan untuk Pecinta Alam. Lepas dari mata air 1 kita akan bertemu lagi dengan kejernihan mata air 2 sampai mencapai cadas. Lepas dari cadas Pecinta Alam akan disambut dengan hutan lumut. Di sini tak diperkenankan sang mulut mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar. Sang lumut akan sangat marah olehnya. Setelah hadangan hutan lumut inilah Pecinta Alam akan sampai pada puncak kemenangan. Telaga Dewi nan eksotik menyambut dengan hamparannya nan membiru. Tenang dan penuh kesejukan. Tak tertandingkan sebagai pengantar menuju tahun baru.
Di sekeliling Telaga Dewi, pecinta alam dapat mendirikan tenda untuk bermalam. Tak perlu susah-susah mencari air untuk sekedar pelepas dahaga, air nan jernih itu dapat langsung dimanfaatkan. Selain untuk memasak, air itu juga boleh dimanfaatkan untuk mandi. Selain air nan jernih, Telaga Dewi kaya akan ikan lagi besar-besar. Namun tak satu pun diperkenankan menikmati ikan yang besar itu. Ia salah satu pantangan yang tak boleh dilanggar.
Pepohonan nan tinggi dan besar semakin memperindah dan melengkapi keagungan ciptaan Khalik ini. Banyak rupa yang tercipta dari pepohonan itu, kadangkala bak dinosaurus, bak orang sedang salat, adapula berbentuk ular. Pepohonan itu pun semakin menciptakan kesejukan di puncak eksotik ini. Udara antara satu pohon dengan pohon lainnya terasa berbeda. Jika dengan niat ingin menikmati keagungan Allah menuju puncak ini tidak akan terjadi apa-apa. Namun, ketika timbul niat buruk atau berkata kotor tak dapat dipastikan akan dapat pulang dengan mudah karena perjalanan akan ditutupi oleh awan putih. Tapi, itulah tantangan. Jika pun terjadi hal yang demikian, Pecinta Alam mestilah duduk diam, karena jika terus berjalan bisa tersesat dan hilang.
Terlepas dari itu, tetap tak merugi jika mampu mencapai puncak ini walau tak setinggi tetangganya sang Merapi.***

PANDANGAN
Terpulang pada Niat

Jika melakukan perjalanan menuju puncak gunung, begitu banyak pantangan yang musti diperhatikan. Namun karena hal ini seringkali diabaikan, menyebabkan banyak orang hilang di saat melakukan pendakian. Hal inilah yang menimbulkan banyak ketakutan ketika para Pecinta Alam akan menuju gunung Singgalang.
Jika ditilik lagi, ketika akan mengunjungi sebuah tempat atau rumah tentunya kita akan meminta izin pada tuan rumah. Dengan mengucapkan salam. Kemudian sang tamu juga harus berperangai elok ketika bertamu di tempat tersebut. Hal inilah yang hendaknya menjadi bahan pertinbangan ketika para Pecinta Alam melakukan perjalanan pada sebuah tempat terutama puncak gunung. Jika niat dapat diluruskan, kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan itu akan sangat kecil bahkan tidak ada. Namun, ketika kita berkunjung ke suatu tempat dan melakukan keonaran di tempat itu terang saja sang tuan rumah akan marah. Nah, permasalahan itu sama dengan hilangnya orang ketika melakukan perjalanan. Jika niat orang yang hendak berkunjung itu baik maka ia akan mendapat jamuan yang baik pula. Sebaliknya, jika telah salah niat tak heran jika yang buruk dapat terjadi padanya.

TIPS ALAKADAR

Mendaki ke Puncak Singgalang

Untuk menyambut tahun baru atau melakukan pendakian ke Gunung Singgalang, maka hal yang perlu kita lakukan adalah:
• Jangan lupa membawa perlengakapan seperti parang, kaus kaki yang panjang, sepatu, dan perlengkapan kemping lainnya. Usahakan barang bawaan tidak terlalu berat agar mudah saat melalui hutan pimping.
• Luruskan niat saat melakukan perjalanan dan jangan takabur.
• Ketika mengambil edelwis dan tanaman lainnya, ambillah sekedarnya.
• Jika terlupa dan salah bicara maka langsung saja duduk diam, jangan berjalan karena akan tersesat lantaran perjalanan ditutupi oleh awan.
• Pada hari-hari tertentu, akan terdengar suara-suara seperti suara adzan, bunyi orang salat berjamaah, acara gambus, dll. Jika terdengar bunyi-bunyi itu maka jangan sekali-kali berniat untuk melihatnya, cukup didengar saja. Pamali.
• Bawalah kamera dan handycam untuk mengabadikan keelokan pesona telaga Dewi dan hamparan alam Kabupaten Agam dan sekelilingnya yang indah
• Jika Anda pergi berpasangan, maka perbaikilah niat Anda. jangan melakukan hal-hal kotor karena akan mendatangkan malapetaka pada diri Anda.
• Jangan sekali-kali berkata kotor.
• Pergunakan air Telaga Dewi untuk memasak dan mandi dan jangan sekali-kali menangkap ikan yang ada di Telaga. Selamat mencoba!
untitled-72

dalam hening

December 24, 2008

kehilangan itu pernah aku rasakan
petir menyambar, pondok rubuh, gunung berderai dg laharnya
laut terbelah dua, bahkan semua penghuni hutan berlarian, hama dan debu berhamburan.
tak ada yang dapat mewakilkan
bahkan, jeritan pun tak dapat mewakilkan
kata-kata juga tak kan bisa menguntainya
begitu tak terbayangkannya
untuk ibu…
ku tak mau kehilanganmu
karena ibu, kaulah denyut jantung dan helaan nafasku

sahabat…
kau berada di samping ibuku
kenapa kau bingung tuk goreskan tinta pada sahabatmu
apa tak adalagi kehangatan itu?
lorong…
saat ini aku berada di lorong sempit
ia membuat dadaku sempit
ia membuat dadaku sesak
ingin ku gapai anganku
angan akan kerinduanku pada sahabatku
tapi tangan ini semakin buntung untuk meraihnya
dan aku sepi di keramaian ini…

sahabat…
ingatkah kamu?
tetes airmata yang menemani kita dulu?
untaian bait lagu ikut menghangatkan kita
semua mata pun tertuju pada kita
sahabat…
sekarang dingin sudah semua
aku bagai gajah di pelupuk mata
“tampak tapi tak bermakna”
sahabat
lirihku…
rapuh pula jiwaku
rindu ini mencabik organ tubuhku
bahkan salju itu masuk ke dalam setiap titik pori-poriku
sahabat
aku kedinginan
tanganku membeku
bibirku kelu
kekakuan menghadangku
menghadang cinta kita…
SAHABAT, AKU TAKUT KEHILANGANMU

menyoal Cinta

December 24, 2008

Antara Buta Cinta dan Cinta Buta

Baru-baru ini media massa baik media cetak maupun media televisi disibukkan dengan berita pernikahan seorang kiai nyentrik dengan seorang gadis cilik. Terang saja pernikahan ini menimbulkan kontra di mana-mana lantaran usia calon mempelai wanita yang jauh di bawah ketentuan UU Pernikahan di negara. Dalam ketentuan Negara Indonesia, seorang wanita boleh menikah setelah menginjak usia 16 tahun ke atas. Namun berbeda halnya dengan Ulfa yang bernama lengkap Lutfiana Ulfa yang masih berusia 12 tahun. Ulfa mau menikah dengan pria bernama lengkap Pujiono Cahyo Widianto yang biasa disebut Syekh Puji yang sudah berkepala 4 (43 tahun).
Kehebohan yang muncul di tengah-tengah masyarakat seketika membungkam ketika Ulfa menyampaikan di depan media kalau ia menolak dipisahkan dengan syekh Puji dan tetap ingin menjadi istri gaek yang disebut-sebut berharta itu. Dengan tenang Ulfa mengatakan “saya heran mengapa orang-orang di luar sana meributkan saya, saya mencintai Syekh Puji.”
Kutipan bocah kecil itulah yang perlu kita tinjau kembali. Kenapa tidak, tau apa seorang bocah akan arti cinta. Kebanyakan, anak usia Ulfa hanya tau istilah cinta monyet. Cinta anak sekolahan yang lebih identik dengan jalan berdua, buat tugas kelompok atau pekerjaan rumah berdua, atau sekedar makan di kantin sekolah berdua. Itu konsep cinta anak usia di bawah 17 tahun. Namun agaknya konsep cinta seorang Ulfa berbeda jenis dan bentuknya. Di sinilah muncul permasalahan yang lebih kepada “apakah cinta itu buta atau si bocah yang buta (tidak tau) dengan apa itu cinta”.
Cinta seyogyanya merupakan perasaan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada setiap manusia. Cinta itu sendiri tidak dapat dipaksakan. Cinta juga merupakan suatu tindakan memberikan kasih sayang bukan memberikan rantai atau sebuah belenggu. Tapi berbeda dengan yang diutarakan oleh kiai gaek itu kalau baginya ia menikahi bocah kecil lantaran untuk membantu ekonomi mereka sekaligus ingin membentuk mereka menjadi seorang istri yang diinginkannya. Jelas saja ini tampak berada di luar jalur arti sebuah cinta. Namun kenyataan itu tak mampu mengukuhkan hati gadis cilik yang sama sekali buta akan cinta tersebut.
Jika kita menilik lebih jauh, tak mungkin seorang gadis cilik mengartikan cinta atau ketertarikannya kepada seorang laki-laki tua untuk menjalin hubungan pernikahan. Dapat diperkirakan ada kesalahan pada pemikiran gadis tersebut. Karena berdasarkan perkembangan psikologis, gadis usia ini berada dalam tahap mengenali lawan jenis dan memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Keinginan yang muncul sebatas keinginan untuk selalu melihat dan bisa selalu bersama dengan lawan jenis yang disukainya. Ketika sudah menginjak usia 17 tahun ke atas barulah remaja yang sedang berkembang mulai berpikir ke arah yang lebih serius yaitu pernikahan (dan ini wajar).
Kebutaan Ulfa terhadap cinta yang ia rasakan itulah yang harus kita tilik kembali. Mungkin saja cinta yang dimaksud Ulfa hanyalah semacam kekaguman namun ia tak mampu untuk menempatkan posisi yang tepat untuk rasa sukanya yang satu ini. Dan bagi si gaek mestilah menempatkan nafsunya di tempat sewajarnya. Nafsu untuk membentuk karakter seseorang. Apabila ia merasa memiliki cinta maka tak akan ada keinginan untuk menimbulkan belenggu terhadap orang yang dicintai.
Selanjutnya, hal inilah yang perlu menjadi perhatian serius bagi setiap orang tua sekaligus remaja. Setiap orang tua harus bisa masuk menjadi orang tua sekaligus teman bagi anaknya. Orang tua harus menghilangkan sekat antara dia dan anaknya. Zaman sekarang menuntut setiap remaja untuk mampu bergaul dengan siapa saja. Sedangkan jiwa mereka yang labil, yang sedang mencari jati diri itu butuh pendidik yang benar-benar bisa memberikan bimbingan dan contoh yang benar. Jika setiap orang tua bisa memberikan pendidikan mengenai bagaimana seorang remaja berhubungan dengan masyarakat –lawan jenis- nya, bagaimana membedakan antara cinta dengan kekaguman, bagaimana menempatkan perasaan suka terhadap orang lain. Dan apabila ini dapat terpenuhi, otomatis psikologi remaja akan seimbang. Ia akan terarah ke jalan sewajarnya.
Sedangkan bagi remaja, setiap remaja harus memperluas pengetahuannya mengenai hal-hal yang menyangkut perasaan dan psikologi. Bukan sesuatu yang tabu lagi kalau zaman sekarang menuntut remaja mengetahui soal seks, cinta, dan lain sebagainya. Dengan demikian dia dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya.

yang terlupa dengan agama “CERPEN_Q”

December 24, 2008

Helaan Nafas di Atas Sajadah
Oleh Yosi Elfiandra

Sekelebat terlihat seorang Pak Tua. Keadaannya hampir sama dengan pondok reotnya. Badannya kusut kering. Kulitnya yang terbakar sudah kendor. Bergaris di sana- sini. Bajunya pun seperti baju pekerja kasar, awalnya berwarna putih namun sekarang tampak seperti lumpur sawah. Namun matanya masih seperti dulu, bersih dan masih dapat melihat jelas. Dan ketika ia tersenyum masih tampak gigi putihnya berbaris tinggal 3 di atas dan 4 di bawah.
Ia berjalan menelusuri jalan yang terbentuk di antara semak-semak di depan pondoknya itu. Tampaknya menuju sawah yang saban hari tak kunjung selesai dikerjakannya.
Pondok tua itu ditinggal begitu saja. Ia tak peduli. Kalaupun ada pencuri, sudah tak ada peralatan untuk bekerja yang dapat diambil pencuri. Mulai dari parang, sabit, cangkul bahkan alat yang biasa digunakan untuk dia membajak sawah pun sudah berkarat. Siapa yang mau.
Dulu pondoknya lain. Sekarang mulai condong. Penyangga dari bambu yang berwarna kecoklatan pudar mulai tak kuasa menahannya. Hampir rubuh kalau-kalau disenggol anjing Mak Kayo yang datang mengendus-endus di antara semak di sekitar pondok. Daun beringin rindang di tepi ngarai pun membuat halamannya semakin merimba. Belum lagi rumput-rumput yang tumbuh tanpa segannya, walau tak pernah diharapkan.
Ia tak pernah merisaukan hidupnya, tak salat dan tak permasalahkan soal tuntutan agama namun ia hanya berkeinginan untuk tetap dijenguk oleh anak dan cucunya.
“Tak perlu Bapak ada di rumah ini lagi. Untuk menghidupi aku dan anak-anakku saja suamiku sudah tak sanggup,” kata-kata itu selalu terngiang di telinganya yang mulai tak berfungsi lagi.
Semenjak kata-kata itu keluar dari mulut anak sulungnya, ia memilih untuk menghuni pondoknya di tepi ngarai di persawahan tempat ia biasa menanam padi untuk menghidupi anak dan mendiang istrinya. Pondok yang dulu masih berdiri megah di antara pondok-pondok lain yang ada di persawahan itu kian hari makin menua, seiring dengan menuanya usianya. Dan tak ia sadari, ia pun sudah 10 tahun tinggal di pondok itu. Dan usianya sudah kepala 7. Usia yang sulit ditemukan di zaman modern seperti saat ini. Tak pelak kalau sudah tak ada lagi tenaganya untuk sekedar membersihkan halaman dan pondok itu. Itu pun menjadi salah satu alasan ia tak lagi menginjakkan kaki ke mesjid bahkan sekedar melaksanakan salat wajib saja kakinya tidak kuat “katanya”. Sisa-sisa tenaga hanya digunakannya sedikit demi sedikit untuk mengolah sepetak sawah yang sudah dua bulan tak jua dapat ia selesaikan. Dibersihkan sisi kanan, sisi kirinya sudah merimba. Begitu sebaliknya.
“Gaek, berhenti dulu,” sorak Mak Kayo dari ujung petak sawah yang dikerjakannya.
Mak Kayo adalah orang terdekat yang pondoknya berada sekitar 100 meter dari pondok Gaek. Gaek biasa ia dipanggil. Di Minang gaek itu berarti tua, sesuai dengan keadaannya. Mak Kayolah yang selalu membagi jatah makan siang kepadanya. Biasanya Mak Kayo memang selalu meminta istrinya membungkus nasi lebih agar bisa ia bagi dengan Gaek.
Gaek yang lelah langsung menuju Mak Kayo, selain untuk menjawab teguran Mak Kayo juga untuk mengambil kantong asoi yang dibawa Mak Kayo untuknya. Itu jatah makan siangnya. Dia biasa makan satu kali saja sehari.
***
“Bapak makan saja nasi dingin di atas meja itu, nasi yang baru masak itu untuk suamiku,” kata Sutinah ketus kepada Gaek.
“Aku tidak bisa makan nasi keras itu Sutinah, kau kan tau kalau aku sudah tak punya gigi lagi untuk mengunyah.”
“Bapak memang bisanya cuma merepotkan saja. Untung Mak sudah tidak ada, kalau tidak berlipat ganda yang akan merepotkan ku.”
“Ya Allah, kenapa kau berkata begitu Sutinah? Bukankah Emak yang telah melahirkan kau dan adikmu ke dunia ini. Kan sudah kau rasakan susahnya melahirkan. Bertaruh mati.”
Sutinah diam. Namun tak berarti ia tersadar dengan perkataan Bapaknya.
“Dan aku, aku yang berjuang melawan panas dan hujan untuk dapat menghidupimu dan adikmu.”
“Aku tak pernah minta dilahirkan,” hardik Sutinah.
Kata-kata itu seakan membuat semua yang mendengar terdiam. Bahkan bunyi angin yang berhembus pun menjadi berisik. Gaek berpikir, apakah membesarkan anak yang dititipkan ilahi adalah kesalahan? Batinnya tak mampu diam.
Gaek pun takut, masuk ke bilik 2×2 yang terletak di samping dapur di bagian belakang rumah. Seperti tempat barang rongsokan saja. Gaek tak pernah merisaukan kenapa ia diletakkan di ruangan yang biasa digunakannya untuk menyimpan perkakas untuknya bekerja di sawah dulu. Ketika dia menjadi orang yang disegani karena selalu menyumbangkan beras kepada fakir miskin tiap tahunnya.
“Ada apa lagi Sutinah?” tanya Menan suaminya saat sampai di rumah.
“Kenapa selalu saja ada keributan di rumah ini?”
“Aku kesal dengan Bapak, dulu dia yang memaksa aku menikah dengan suami sepertimu, bahkan aku dipasung agar tak lagi bertemu dengan kekasihku yang jauh lebih kaya darimu. Dan sekarang aku harus menjadi tukang cuci untuk menambah kekurangan gajimu sebagai garin yang jauh dari cukup itu.”
“Astagfirullahal azim, kenapa aku pula yang jadi kau maki-maki Sutinah? Bukankah aku cuma meminta agar tak adalagi keributan di rumah ini? Dia ayah mu.”
“Semuanya memang saling bertali-tali kan? Dan tak perlu aku jelaskan lagi.”
Gaek mendengar perkataan Sutinah dan menantunya dari bilik berukuran 2×2 sambil berbaring di atas dipan yang sudah reot. Itulah yang paling ditakuti Gaek. Punya anak perempuan yang sangat keras kepala. Sedangkan adiknya si Baron tak kunjung pulang semenjak meninggalkan rumah untuk merantau ke Jakarta. Gaek masih ingat kalau saat pergi, si Baron berusia 20 tahun dan ia berusia 50 tahun namun sakit-sakitan sehingga tak bisa bekerja.
Gaek tak dapat menyesalkan yang terjadi. Sutinah, anak sulungnya itu dulu suka huru-hara tak menentu, melalaikan salat padahal dia sudah menyekolahkan anaknya di sekolah agama, gonta-ganti pacar, dan berteman dengan orang-orang berandalan. Masyarakat kampung pun selalu mempergunjingkannya. Bahkan untuk memperlihatkan mukanya kepada masyarakat pun Gaek sudah tak berani lagi. Saking malunya ia dengan perangai anak gadisnya.
Sutinah begitu karena tidak ada ibunya yang mengayominya. Dan Gaek sibuk mengurusi kekayaan serta sawah yang berhektar-hektar. Mengurus penyaluran beras ke fakir miskin dan panti asuhan.
”Mengherankan juga kenapa bisa anak dari seorang juragan tanah yang baik hati dan taat agama itu bisa membelakangi kiblat,” sentilan semacam itu sering keluar dari mulut para tetangga. Hal itu terjadi ketika Sutinah tertangkap basah di sudut taman desa sedang bercumbu dengan seorang pria. Masyarakat begitu geram dibuatnya. Kemudian Gaek memasung Sutinah dan lantas menikahkannya dengan seorang garin desa. Namun setelah peristiwa itu, kesehatan Gaek menurun tajam. Kekayaan dimakan oleh biaya pengobatannya. Dan yang tinggal hanya rumah dan sepetak sawahnya. Bahkan iman dan agamanya pun dibawa lalu oleh penyakitnya itu. Gaek pikun akan agamanya.
Sekarang ia hanya bisa menyesalkan dirinya yang tak dapat menanamkan agama di dada anaknya serta menjadi ayah dan ibu yang baik untuk anak-anaknya.
“Kenapa Tuhan terlalu cepat mengambilmu Aminah?”
“Walaupun kau telah berganti tempat dengan Baron, namun aku tak kan sanggup kehilanganmu. Dan sekarang aku tak mampu menjaga anak-anak kita, bahkan untuk memberi mereka makan pun aku susah,” lirih Gaek.
Rasa menyesal Gaek menjadi pecahan beling di dadanya. Sudah tak adalagi tenaganya untuk bekerja. Makanya Sutinah merasa tak sanggup untuk menghidupi Bapaknya yang hanya sebatang kara itu.
***
Malam itu, semua sudah hening. Cuma terdengar suara lolongan anjing di halaman rumah. Gaek masih meringkuk di bilik kecil di samping dapur tanpa selimut. Sambil menahan dinginnya udara dan menahan perut yang masih saja meronta meminta sesuap nasi. Sejak kemarin malam Gaek belum makan. Pasalnya ia tak sanggup menahan kata-kata Sutinah saat ia mau mengambil nasi. Sedangkan nasi dingin, sudah diambil Menan untuk makanan anjing, yang tinggal hanyalah nasi yang baru dimasak Sutinah, yang asapnya masih mengepul dan baunya yang wangi menyengat hidung. Gaek begitu takut untuk mengambil nasi itu. Ia lebih baik menahan laparnya dengan berbaring tidur di bilik mungilnya.
Namun malam itu Gaek benar-benar tak tahan lagi. Dia merangkak menuju dapur untuk mencari sesuap nasi. Agaknya tikus-tikus juga sedang mengikuti jejaknya. Berusaha keluar untuk mencari makanan. Ketika dilihat Gaek, di atas meja tak ada lauk sama sekali. Dibukanya periuk nasi. Tinggal sebongkah nasi yang keras dan sedikit menghitam karena gosong. Dirogohnya nasi itu untuk dipindahkan ke piring yang sudah dipegangnya. Dan tak sengaja, tangannya menyenggol tutup periuk sehingga jatuh ke lantai dan juga membawa serta gelas jatuh.
“Prak!”
Gelas itu pecah berkeping-keping dan gelindingan tutup periuk menambah keriuhan malam itu. Sutinah terkejut alang kepalang. Langsung bangun dan menuju dapur. Ketika dilihatnya Gaek sedang di dapur dan menjadi penyebab keributan itu, Sutinah pun marah alang kepalang. Sampai ke ubun-ubun darahnya.
“Apa yang Bapak lakukan di sini?” tanya Sutinah membelalakkan mata.
“Lihat! Gelas ku pecah. Dan Bapak sudah membuat tidur ku terganggu.”
“Bapak cuma bisa bikin susah!”
Gaek hanya diam. Menahan sumpah serapah darah dagingnya.
“Tak perlu Bapak ada di rumah ini lagi. Untuk menghidupi aku dan anak-anakku saja suamiku sudah tak sanggup.”
Gaek terhentak mendengar perkataan Sutinah.
“Coba kalau masih ada Baron di rumah ini, pasti setidaknya masih ada yang akan membelanya” Gaek membatin.
“Bapak akan pergi Sutinah tapi tidak malam ini, biarkanlah Bapak menunggu pagi di rumah ini dulu.”
“Terserah Bapak, pokoknya ketika bangun besok aku tak mau lagi melihat wajah Bapak di rumah ini.”
Sutinah pun berlalu meninggalkan Gaek. Gaek terdiam. Matanya basah. Dadanya dipenuhi tancapan peniti kecil.
”Allah benar-benar tak adil, sia-sia saja selama ini aku taat pada-Nya. Namun apa yang aku punya diambil-Nya. Istri, anak-anak…..semuanya,” seketika Gaek menjadi teman setan. Tak adalagi iman di dadanya untuk melawan setan itu.
***
Gaek tersentak, tak perlu lagi ia menyesali yang terjadi. Namun bayangan kejadian itu tetap saja hadir di setiap malamnya. Mungkin karena tak ada penghuni lain selain ia dan peliharaan pak tani yang ditinggal.
Gaek pun menutup mata, memaksakan untuk ia bisa merasakan tidur indah. Gaek ingin sekali tertidur pulas, seperti yang ia rasakan saat masih ada istrinya dan hidupnya masih berkecukupan.
Setelah adzan subuh ketika pagi menjelang. Gaek mendengar teriakan Mak Kayo memanggilnya.
“Gaek sudah bangun? Hari sudah pagi Gaek”
Gaek keluar.
“Aku sudah bangun dari tadi Kayo. Kenapa pagi sekali kau datang hari ini Kayo?”
“Aku sengaja datang pagi-pagi. Istriku membuat lontong gulai dan ia ingin Gaek mencicipinya.”
“Terima kasih. Kalian baik sekali. Tapi sudah lama juga aku tak melihat istrimu. Kenapa dia jarang sekali datang ke sini Kayo?”
“Istriku sekarang berjualan di pasar, pulangnya sudah sore hari. Ia tak punya waktu lagi untuk ke sawah ini Gaek. Namun istriku itu selalu berpesan agar Gaek bisa menghabiskan hari tua Gaek untuk bersujud kepada Allah. Walau sesering apapun aku mengatakannya, tak pernah Gaek indahkan.”
“Tak apalah, bagus kan untuk membantu keuanganmu. Agar kelak kau tak jadi penyesalan bagi anak-anakmu,” hanya itu yang terlontar dari mulut Gaek.
Mak Kayo paham sekali dengan apa yang dimaksud Gaek. Gaek sudah pernah bercerita soal itu. Itulah sebabnya kenapa Mak Kayo selalu memberi Gaek makanan dan mengingatkan gaek akan Allah. Mak Kayo tak ingin Gaek meninggal tersia-sia begitu saja. Pernah Mak Kayo menawarkan untuk tinggal di rumahnya, namun Gaek menolak. Gaek tak ingin merepotkan.
Gaek pun duduk di pematang. Mengajak Mak Kayo berbincang-bincang.
“Hari masih pagi, aku ingin sekali berbincang-bincang denganmu Kayo.”
“Mmmmmmm” Mak Kayo tersenyum mendengar penuturan lelaki tua itu.
“Kenapa Gaek berkata seperti itu. Sesungguhnya saya mau kapan saja bersenda gurau dengan Gaek. Tapi apalah daya, pekerjaan dan tuntutan hidup yang memaksa.”
“Tidak, saya hanya ingin sekali berbicara denganmu hari ini Kayo.”
“Bicara apa Gaek?”
“Hidup itu tak mudah. Terkadang kita harus berjuang dan mempertaruhkan sesuatu. Dan aku telah gagal untuk itu. Bahkan untuk membawa anak gadis ku menjadi orang yang baik saja aku tak bisa. Begitu pula anak lelaki ku. Mungkin karena terlalu malu mendapat ayah seperti aku makanya dia pergi begitu saja. Aku tak mampu menghidupi mereka. Karena penyakit yang datang silih berganti. Demam lah, usus buntu, alergi, dan tangan ku juga pernah mati sebelah. Tapi kenapa umurku masih panjang juga. Semakin lama aku semakin menjadi seseorang yang memuakkan bagi anak ku. Mungkin aku sudah harus mengakhirinya.”
“Gaek tak boleh berkata begitu. Bukankah hidup adalah perjuangan. Allah memberikan cobaan untuk menguji ketaatan hamba-Nya. Dan Gaek yang dulu terkenal sangat agamais bisa jatuh dengan cobaan sedikit saja dari Allah. Mana pengajian yang selama ini Gaek junjung? Dan menurut saya, anak Gaek yang semestinya menyesal telah menyia-nyiakan Gaek.”
Gaek hanya terdiam. Mengelap sebagian peluh yang mengucur di dahinya. Kemudian memegangi tangan yang sepertinya terasa sakit olehnya.
Gaek menghela nafas panjang. Dia seperti berat untuk mengatakan sesuatu.
“Jika nanti aku tak ada, aku ingin kau memberikan kotak yang ku simpan di pondokku itu kepada anakku Sutinah dan Baron. Aku harap setidaknya mereka mau menerima itu.”
“Apa itu?”
“Tak perlu kau tahu sekarang. Nanti saja setelah aku tak ada. Aku harap kau mau melakukannya.”
Gaek menenggak air ludah yang semakin pahit di mulutnya. Kemudian dia menekur. Tak memandang Mak Kayo barang sedetik pun. Dan Mak Kayo hanya menatapi Gaek dalam-dalam. Tak mengerti apa yang ada di benak lelaki tua itu.
“Oh ya, terima kasih juga atas semua kebaikan mu dan keluargamu. Mudah-mudahan Tuhan itu benar-benar ada untuk membalasnya. Sedangkan aku tak dapat memberikan apa-apa.”
“Sudahlah Gaek tak baik bicara hal-hal seperti itu. Saya menganggap Gaek seperti orang tua sendiri.”
“Hari pun telah siang Gaek, sebentar lagi adzan Zuhur. Lebih baik kita salat. Barangkali itu bisa menghilangkan gundah gelisah Gaek.”
Gaek tersenyum.
“Entahlah Kayo aku sendiri tak paham dengan apa yang aku pikirkan. Aku tidak percaya pada Tuhan. Dia tidak pernah ada bukan? Mmm Gaek menghela napas panjang. ”Mungkin karena aku telah lelah,” Gaek melontarkan kata-kata itu di ujung kalimatnya.
Gaek berlalu meninggalkan Mak Kayo menuju pondok reotnya itu. Pondok tua setua dirinya yang sangat butuh penyangga.
***
Siang itu, matahari di atas kepala. Adzan berkumandang menemani matahari meninggalkan puncaknya. Mak Kayo kemarin tidak ke sawah lantaran anaknya sakit. Mak Kayo langsung berteriak memanggil Gaek seperti biasanya. Namun tak lagi ada sahutan.
Sepertinya semua daun berguguran, membuat pondok Gaek semakin kumal dan kotor. Tak seperti ada penghuninya. Kembali Mak Kayo berteriak memanggil Gaek. Makanan ini sudah dingin agaknya jika Gaek terlalu lama menyantapnya.
“Gaek, ambil lah makanan ini. Apa Gaek tidak lapar?”
Tak jua ada sahutan.
”Allahuakbar Allahuakbar Laailahaillallah….”
Kumandang adzan yang menyahut lantang, namun masih juga belum bisa menjadi penyadar bagi Gaek untuk dapat menuju sujud sebenarnya.
Sedangkan sajadah kumal satu-satunya miliknya berada di bawah tubuhnya yang sudah tak berarti lagi.
Padang, September 2008

Hello world!

December 24, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!